What's in a name ?


Oleh : Roes Haryanto

Jakarta.




What is in a name”, kata pujangga William Shakespeare. Bunga mawar ditaruh dimanapun dan diberi nama apa saja akan tetap indah dan harum. Barangkali benar untuk kasus bunga mawar, namun untuk kepentingan bisnis pemilihan nama merupakan masalah yang maha penting. Untuk sebagian pengusaha keturunan Cina, mereka sering harus pergi ke Gunung Kawi untuk mencari nama buat calon toko atau perusahaannya.

Makanan khas yang terkenal dari Ungaran, Jawa Tengah adalah sate sapi. Beberapa warung sate sapi yang terkenal antara lain : Sate sapi “Pak Keri”, “Pak Wiryo”, dan yang paling top “Pak Kempleng”. Ada dua hal yang bisa kita catat dari nama-nama warung ini. Pertama, karena sate sapi adalah masakan tradisional, maka dalam pemilihan nama warungnyapun berusaha memberi kesan tradisional. Kedua, sengaja dilih nama pemiliknya sebagai nama warung untuk memberi pesan kepada langganan bahwa pemiliknya betul-betul terjun langsung didalam mempersiapkan masakannya. Sehingga resep dan bumbunya dijamin orisinal dan quality control-nya terjaga. Hal ini juga berlaku untuk warung-warung tradisional lainnya seperti : sop kaki Pak Kumis, Sate Pak Jono, Ayam Goreng Ny Suharti, Gudeg Yu Juminten, Pecel Yu Sum, atau Soto Kadipiro.

Barangkali akan kedengaran aneh kalau untuk warung-warung tradisional tadi kita beri nama misalnya, sop kaki “Helen”, Sate sapi “Shinta”, atau sate ayam “Veritas”. Sebaliknya, untuk salon, kursus komputer, pusat-pusat kebugaran jasmani atau bakery, nama harus berbau modern dan trendy seperti : Lucia gents and lagies salon, kursus komputer “Datacom”, “Clark’s fitness center” atau Danish bakery. Jangan coba-coba memberi nama seperti salon “Bu Siti”, kursus komputer “Pak Harjo” atau tailor “Mang Eman”, karena tidak bakal ada calon langganan yang mau masuk. Hal ini juga menjelaskan mengapa himbauan kepada perusahaan-perusahaan untuk tidak menggunakan nama yang berbau asing sulit diikuti.

Di Purwosari, Solo, dekat rumah ibu saya, ada apotik yang menggunakan nama : “Kondang Waras” (terkenal sembuh). Sedang di Laweyan ada apotik yang namanya “Enggal Senggang” (cepat sembuh). Di lokasi lain ada juga apotik dengan nama “Sido Mulyo” (jadi sehat). Dari namanya saja jelas pengusaha berusaha mencari nama yang kuat relevansinya dengan kegiatan obat-mengobati. Dari ketiga nama tersebut nampaknya yang paling efektif adalah “Enggal Senggang”, karena siapa yang membeli obat disana, sesuai namanya, dijamin cepat sembuh. Di Solo, hotel-hotel modern memilih nama seperti Solo Inn, Mangkunegaran Palce, Kusuma Sahid Prince. Sedang penginapn trdisional, namun sering tingkat huniannya diatas 100 persen, lebih sreg menggunakan nama seperti penginapan Adem Ayem, Losmen Tentrem, atau Losmen Mekarsasri dlsb.

Di kantor pusat BRI ada urusan yang namanya Administrsi Kredit (ADK), terjemahan dari Credit Administration. Istilah to administer menurut Webster Dictionary artinya : to manage or conduct as chief agent or directing and controlling official; to direct or superintend the execution of ………etc. Dari definisi diatas jelas nampak bahwa administration bukan hanya sekedar kegiatan catat mencatat, tetapi merupakan fungsi aktif karena mengandung unsur menggerakkan atau mengarahkan (direct) dan mengawasi pelaksanaan (superintend the execution of). Fungsi administrasi kredit di BRI diatur dalam Credit Policies and Procedures (CPP) memang telah didesain agar semua pejabat yang terlibat di bidang perkreditan berperan aktif, mulai sejak inisiasi, realisasi, pemantauan sampai saat kredit menjadi bermasalah.

Didalam pelaksanaannya memang belum semulus sebagaimana yang kita harapkan semua. Bagian ADK di Kantor Wilayah dan Kantor Cabang sering hanya bergelut dengan laporan portofolio yang bersifat statistik. Padahal seharusnya dapat lebih banyak memberikan informasi dan analisa kepada manajemen. CPP memang konsep baru sehingga perlu waktui untuk betul-betul menghayatinya. Beberapa filosofi dan pendekatannya banyak yang masih merupakan “keju” yang sulit dicerna oleh perut rakyat BRI. Dengan traning dan perubahan budaya kerja, diharapkan kekurangan-kekurangan dapat diperbaiki.

Namun barangkali faktor nama juga berperan disini. Istilah “administrasi” untuk telinga Melayu mempunyai konotasi sekedar catat-mencatat, pasif, menunggu dan kurang keren. Kiranya perlu difikirkan nama lain yang lebih memberi kesan dinamis, proaktif dan rasa bangga bagi petugas-petugasnya.

Kita juga mempunyai urusan yang namanya Sistem dan Tehnologi (SISTEK). Agak sulit juga menjelaskan kepad orang awam tentang fungsi dari urusan ini, karena kita ini bank bukan pabrik. Tidak bisa dipungkiri betapa besar peranan urusan ini didalam mengantar BRI ke tingkat kemajuan yang sekarang dicapai ini. Namun penggunaan nama Sistem dan Tehnologi lama-lama dapat menggiring alur pikiran kita bahwa urusan ini memang semata-mata hanya bertanggung jawab atas sistem dan tehnologi. Apabila demikian halnya maka urusan SDM akan merasa tidak bersalah apabila mengisi urusan ini dengan orang-orang yang kualifikasi tehnologinya lebih menonjol daripada kualifikasi perbankannya. Demikian pula Urusan Pendidikan akan merasa sudah pas kalau menyediakan paket-paket training yang bobot tehnologinya jauh lebih besar daripada bobot banking-nya. Bahkan pada musim asesmen pegawai kita mudah memaafkan kalau orang SISTEK kurang bisa menjawab soal-soal tehnis perbankan. Kalu persepsi ini biarkan berlanjut, maka bukan mustahil suatu saat kita akan mempunyai urusan yang kacamata tehnician-nya lebih dominan daripada kacamata banker-nya.

Saya kurang tau apa nama yang lebih tepat untuk urusan ini. Dulu waktu masih jamannya biro, kita mempunyai biro yang namanya Biro Informasi Manajemen. Memang kegiatannya belum secanggih urusan SISTEK sekarang ini, namun message-nya jelas, yaitu menyediakan informasi untuk keperluan manajemen. (Semarang, 1992)

Bagaimana kalau petugas KUA tidak datang ?


Oleh : Roes Haryanto

Jakarta.



Hari itu Minggu, tanggal 23 Desember 2007, pagi-pagi pukul 7.00 saya dengan nyonya sudah sampai di Jl Permana 27, Cimahi, tempat kediaman calon pengantin wanita (CPW) dimana akan dilangsungkan akad nikah dan resepsi perkawinan keponakan saya, Ramadhoni Cahyoadi. Sebagaimana biasa, saya mendapat tugas mewakili orang tua untuk menyerahkan calon pengantin pria (CPP) dan sekaligus sabagai saksi. Setelah pensiun, saya sering mendapat tugas kalau tidak menyerahkan CPP ya menerima CPW. Menurut jadwal akad nikah akan dilaksanakan pukul 8.00, jadi saya merasa cukup tenang telah datang lebih awal mengingat saya langsung dari Jakarta. Terima kasih kepada tol Cipularang yang membuat waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi semakin pendek. Pukul 7.50 rombongan CPP tiba di tempat kediaman CPW. Namun mengingat petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA) belum datang, maka kami seluruh rombongan dipersilahkan untuk menunggu dirumah tetangga sebelah.

Sampai dengan pukul 8.30 belum ada tanda-tanda petugas KUA akan datang. Oleh pengatur acara dari tuan rumah diputuskan untuk memulai saja acara akad nikah. Prosesi diawali dengan upacara penyerahan dan penerimaan CPP. Kemudian seluruh rombongan dipersilahkan menuju ke ruang tengah tempat pelaksanaan acara upacara ijab-kobul. Setelah semua fihak mengambil tempat yang sudah disediakan dilanjutkan dengan pembacaan kalam ilahi dan sari tilawah. Selesai sari tilawah, seorang ustadz melanjutkan dengan dengan kotbah nikah. Prosesi ini keseluruhannya diperhitungkan memakan waktu antara 20-30 menit, jadi cukup untuk mengisi waktu sambil menunggu kedatangan petugas KUA.

Walaupun uraian kotbah nikah sudah dipanjang-panjangkan, namun sampai dengan pukul 9.00 belum juga ada tanda-tanda petugas KUA akan muncul. Oleh pembawa acara kemudian diusulkan untuk melanjutkan saja acara akad nikah walaupun petugas KUA belum datang. Alasannya, menurut pembawa acara, toh syarat-syarat sahnya perkawinan menurut ketentuan agama sudah terpenuhi. Sedang fungsi petugas KUA sebetulnya hanya mencatat adanya akad nikah ini, agar perkawinan ini diakui keberadaannya secara hukum. Terjadi negosiasi antara para saksi dan wali nikah apakah harus menunggu KUA lebih lama lagi. Akhirnya disepakati untuk melangsungkan acara ijab-kobul tanpa menunggu lagi petugas dari KUA. Nanti, sesudah akad nikah akan dibuatkan berita acara secara lengkap untuk didaftarkan di KUA. Alhamdulillah, pukul 9.15 yang ditunggu-tunggu, petugas KUA datang, jadi acara akad nikah dapat berlangsung sesuai ketentuan agama maupun undang-undang sebagaimana biasanya.

Menurut Undang-undang Perkawinan No 1 tahun 1974, pasal 2 tentang sahnya suatu perkawinan diatur sebagai berikut :

Ayat 1 : Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

Ayat 2 : Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut agama Islam syarat sahnya suatu perkawinan adalah: Pertama, adanya calon mempelai pria dan wanita yang sudah dewasa. Kedua, adanya dua orang saksi, dan ketiga, adanya wali nikah. Jadi, kalau ketiga syarat tersebut telah dipenuhi maka perkawinan dapat dilangsungkan dan sah menurut ketentuan agama. Hanya saja sepanjang belum dicatatkan di KUA maka perkawinan tersebut tidak mempunyai konsekuensi hukumnya. Artinya, kalau suatu waktu nanti terjadi perceraian maka hak-hak istri seperti pembagian harta gono-gini, atau hak untuk mengasuh anak tidak diakui secara hukum. Begitu pula kalau suami meninggal dunia, maka hak-hak waris dari anak yang ditinggalkan tidak diakui undang-undang.

Atas dasar uraian diatas, saya termasuk golongan yang mendukung usul pembawa acara agar acara akad nikah tetap dilangsungkan walaupun petugas KUA belum ada. Bagaimana kalau masalahnya bukan hanya keterlambatan datangnya petugas KUA tetapi sudah darurat. Misalnya terjadi kemalangan yang menimpa petugas KUA sehingga mengakibatkan ybs tidak bisa menghadiri acara akad nikah. Apakah perkawinan harus dibatalkan, dan dijadwal ulang? Padahal disisi lain undangan sudah disebar dan tamu-tamu sudah mulai berdatangan.

Belakangan ini sering terjadi pasangan yang berbeda agama, khususnya artis, yang melakukan pernikahan di luar negri. Alasannya, mereka tidak bisa melakukan di Indonesia karena UU Perkawinan di Indonesia tidak memungkinkan perkawinan pasangan yang berbeda agama. Apabila ini dilakukan ada kemungkinan dua syarat sahnya perkawinan yang diminta UU Perkawinan tidak dipenuhi semua. Ketentuan hukum agama tidak dipenuhi dan tidak ada pencatatan oleh pejabat yang berwenang. Dari segi agama perkawinan ini tidak sah, yang berarti yang terjadi adalah perzinahan, Sedang dari kacamata hukum perkawinan ini dianggap tidak pernah ada.

Di masyarakat banyak juga terjadi kawin “siri”, pernikahan yang secara agama sudah sah tetapi tidak pernah didaftarkan di KUA. Perkawinan semacam ini banyak terjadi di kalangan masyarakat yang tidak mampu, mereka tidak kuat membayar biaya nikah di KUA. Kalau situasinya seperti ini masih dapat dimengerti dan dimaafkan. Namun banyak pula yang melakukannya karena alasan-alasan lain, seperti untuk me-legalkan perselingkuhannya, kawin kedua kalinya tanpa persetujuan istri pertama, atau agar istri tidak kehilangan pensiunnya karena telah kawin lagi.

Tugas dari petugas KUA sebetulnya tidak hanya mencatat, tetapi memeriksa kelengkapan admisnistrasi dan dipenuhinya syarat-syarat oleh fihak-fihak yang akan melakukan pernikahan. Pemeriksaan syarat-syarat sahnya calon mempelai pria dan wanita, sahnya saksi dan syarat-syarat wali nikah merupakan kompentensi dari petugas KUA. Jadi, walaupun saya sependapat dengan pemikiran untuk menikah secara agama dulu tanpa harus menunggu petugas KUA, namun hal ini sebaiknya hanya dilakukan dalam situasi darurat atau dalam keadaan sangat terpaksa. (Cimahi, 2007)

Antara Kebumen dan Cirebon


Oleh : Dadi Effendi

Jakarta

Kisah yang ditulis oleh para pensiunan BRI umumnya menceritakan pengalaman semasa bekerja di BRI. Kisah berikut juga menceritakan hal yang sama namun isinya berupa pengalaman semasa kecil dikedua kota tersebut yang ternyata telah membentuk obsesi penulis untuk bekerja di BRI. Jadi tulisan ini merupakan rekaman masa kanak- kanak, jaug sebelum penulis masuk bekerja di BRI.

Masa perang kemerdekaan.

Tentara Belanda menduduki Kebumen.

Pada masa perang kemerdekaan pada tahun 1948 / 1949 penulis berada di Kebumen, karena ayah (Bapak Soekardjo SH) menjabat sebagai Administrateur / Pinca BRI setelah mengungsi dari Cianjur yang baru saja diduduki Sekutu. Serangan musuh terhadap kota Cianjur sedemikian mendadaknya, sehingga para pegawai tidak sempat menyelamatkan asset BRI dan harta pribadi, bahkan penulis malahan tertinggal. Satu – satunya yang membekas dalam memori penulis tentang BRI Cianjur yaitu ketika tentara Gurkha yang berbadan tinggi besar, kulit hitam dengan rambut dikucir menemukan penulis dan adik dirumah dinas. Untunglah dengan sembunyi – sembunyi ayah berhasil menjemput kami pada sore harinya.

Berdasarkan pengalaman di Cianjur, maka sesampainya dikota Kebumen segera dilakukan konsolidasi. Para pegawai dilatih menghadapi keadan darurat. Rasa kebangsaan ditingkatkan, dibuatlah peti– peti dari kayu guna mengangkut harta BRI. Kantor dan rumah dipasangi bom waktu berwarna merah sebesar gentong. Tujuannya agar lebih baik tempat itu dihancurkan daripada nantinya dijadikan markas tentara Belanda. Rapat – rapat Dewan Pertahanan dan Ekonomi Kabupaten diadakan di Kantor BRI, bahkan Menteri Pertahanan waktu itu Mr Sewaka (ayahanda bpk Suba Sewaka, pejabat BRI Bandung) sering menginap dirumah dinas bila sedang turnee ke daerah – daerah.

Selanjutnya tidak mengherankan ketika kota Kebumen betul – betul diduduki oleh Belanda, tidak seorangpun pegawai BRI yang menyerah bahkan ikut evakuasi ke pedalaman. Sedangkan di instansi lainnya banyak orang yang ber kolaburasi/ bekekrja sama dan meneruskan pekerkjaan dibawah pemerintahan NICA Belanda.

Demikianlah pada saat tentara Belanda mencapai perbatasan kota, para karyawan mengisi peti – peti dengan asset BRI khususnya jaminan gadai emas, sertifikat tanah serta kemudian membumi hanguskan kompleks BRI. Selanjutnya dengan menggunakan beberapa dokar, diringi oleh sepeda karyawan semua mengungsi kedesa Tanuharjo. Semua ditampung dirumah Kepala Desa dan keesaokan harinya BRI membuka kantor darurat di Balai Desa meneruskan fungsi BRI. Kepala Desa waktu itu bernama bapak Marto, banyak berjasa kepada BRI dan kelak anak – anaknya yaitu bpk Soeparto, Soetjipto dan Sri Wahyuni diterima sebagai karyawan BRI Kebumen.

Ayah ditangkap Belanda.

Karena keadaan semakin genting dan Belanda mulai mengadakan patroli kedesa – desa, selanjutnya diputuskan untuik pindah ke Ibu Kota Yogyakarta melalui Kutoarjo dan Purworejo. Dalam perjalanan ini ayah tertangkap oleh Belanda , karena ketika menyamar sebagai petani ayah ditanya dalam bahasa Belanda dan menjawabnya dalam bahasa yang sama. Selama dalam tahanan tugas ayah lebih banyak menemani sang Komandan yang ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia. Kesempatan ini digunakan oleh ayah untuk memaparkan perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka tidak berbeda dengan rakyat Belanda dalam melawan NAZI Jerman yang baru saja menjajah Negeri Belanda. Rupanya rasa simpatinya timbul dan pada suatu malam diam – diam ayah dilepaskan kembali dan dapat berkumpul dengan keluarga dan rombongan BRI.

Batal ke Purworejo beralih ke Purwokerto

Akhirnya tujuan ke Yogyakarta dibatalkan, karena kota tersebut telah jatuh ketangan Belanda. Selanjutnya perjalanan dialihkan ke Purwokerto tempat Kantor Pusat dan Direksi BRI. Namun perjalanan kembali justru lebih sulit lagi karena jalan raya telah dikuasai Belanda, sehingga rombongan harus menempuh jala setapak di pegunungan dan dilakukan pada malam hari guna menghindari patroli Belanda.

Jumlah rombongan juga diperkecil, tinggal keluarga ayah dibantu para Mantri dan KTU yang mengangkut peti – peti dan yang kadang – kadang menggendong penulis dan adik –adik. Ditengah perjalanan sering bertemu dengan rombongan Siliwangi yang hijrah dari Jawa Barat. Ibu penulis yang berasal dari Sunda senang ngobrol dengan mereka, karena bahasa seharai – hari biasa menggunakan bahasa Jawa. Setelah berminggu – minggu kami berjalan kaki melintasi gunung, sungai, sawah dan hutan sampailah dikota Purwokerto. Rombongan langsung lapor ke Kantor Pusat yang lokasinya di area bangunan musium sekarang.

Dengan upacara singkat Cabang BRI Kebumen dinyatakan ditutup. Ayah sekeluarga pulang ke Ciamis kampung ibu penulis, sedang para pegawai antara lain Soehari, Roeskiman, Najib dan lainnya kembali kedesanya masing – masing. Setelah lama berkumpul, perpisahan terasa sangat mengharukan. Namun hubungan tersebut terus berlanjut puluhan tahun kemudian. Rombongan tersebut masih sering menjenguk penulis saat berada di Cirebon, Bandung dan Jakarta.

Nostalgia.

Pada tahun 1990 penulis telah bekerja di BRI dan kebetulan menjabat PINWIL DIY yang wilayahnya meliputi DIY, Kedu dan Banyumas. Suatu ketika mengadakan perjalanan dinas ke Kebumen, terharu rasanya membayangkan BRI pada masa perjuangan masa lalu. Saat kunjungan itu kondisi gedung kantor yang ada sudah tidak memadai lagi, maka penulis berusaha mengusulkan membangun gedung kantor yang besar dan megah. Alhamdulillah bisa terwujud, penulis merasa lega dn bersyukur dapat membalas budi sebagian karyawan BRI Kebumen.

Pengalaman di Cirebon.

Sebelumnya pada tahun 1920, kakek penulis bekerja di Volkbank (BRI) Cirebon sebagai Mantri Bank Desa yang membawahi sampai Daerah Kuningan. Administrateur. (PINCA) waktu itu seorang Belanda yang dikenal korup dan diskriminatif terhadap para karyawan pribumi, kakek melaporkan tingkah laku Pinca tersebut kepada atasannya di Bandung, namun yang terjadi kemudian adalah baik PINCA maupun kakek malahan dipecat. Karena malu dan kecewa, akhirnya kakek tidak mau bekerja dimanapun dan kemudian wafat. Sehingga tidak menangi / mengalami bahwa ayah penulis kemudian menjadi Administrateur AVB di Cirebon mengganti MR Stroing. Kemudian juga mengganti AVB menjadi BRI.

Pada waktu serah terima ada masalah kecil karena para karyawan mengharapkan R Widjaya seorang tokoh karyawan nasionalis sebagai PINCA. Setelah mengetahui ayah penulis turunan dari kakek yang menjadi simbol perjuangan para karyawan, akhirnnya disepakati ayah menjadi Administrateur dengan gaji F 28 dan R Wijaya menjadi wakilnya.

catatan penulis :

Dikelak kemudian hari baik ayah, penulis sendiri mapun bapak Krisna Widjaya putra R. Widjaya sama – sama memangku jabatan sebagai Direktur Personalia dan Logistik BRI dalam kurun waktu yang berbeda.

Pada tahun 1951 disekitar kompleks BRI masih rawan, karena berada dipinggiran kota dan didepannya masih berupa sawah. Tidak jauh dari kompleks terdapat basis BSH (barisan sakit hati) yaitu ex Lasykar Pejuang yang tidak dapat direkrut masuk TNI, sehingga mereka berbalik melawan Pemerintah RI. Mereka telah beberapa kali menyerang Kantor BRI dengan tujuan mengambil uang dan perhiasan. Pertempuran ala cowboy umumnya terjadi pada malam hari antara BSH dengan Polisi dan para karyawan yang bersembunyi dibalik dinding kantor. Mereka berlindung diparit dan gerobag kerbau dipinggir diseberang jalan, namun belum pernah mereka menguasai kantor BRI.

Demikian pula dengan Rombongan Kas BRI yang beroperasi didaerah – daerah kekuasaan DI / TII (Cilimus, Arjowinangun) harus pandai menghindar, karena nyawa taruhannya.

Tante menikah dengan Mr De Zeew, PINCA NHM.

Dikota Cirebon waktu itu hanya ada tiga buah bank, yaitu De Javasche Bank, BRI dan NHM . pimpinan NHM namanya De Zeew menikahi tante penulis (adik ayah). Ayah penulis orangnya sangat nasionalis, dua orang adiknya dan seorang adik ipar gugur di Front Gunung Ceremai. Beliau marah besar mendengar pernikahan tersebut dan tidak mau lagi mengakui sebagai adik. Karena sangat merasa tertekan tante sakit berkepanjangan. Ketika merasa ajalnya sudah dekat, dia mengundang ayah untuk memohon maaf. Melihat keadaan dan penderitaan tante serta betapa besar rasa kasih sayang suami kepadanya, akhirnya ayah merestui pernikahan mereka. Sebuah mukjizat datang, tidak lama kemudian tante bisa sembuh kembali dari sakit yang telah bertahun – tahun dideritanya. Selanjutnya mereka dapat menjalani kehidupannya dengan bahagia, tetapi meninggalkan Indonesia apda tahun 1958 karena situasi poltik saat itu.

Demikanlah pengalaman penulis yang sangat mengesankan dikedua kota tersebut. Loyalitas, patriotisme, kesetiaan dan rasa kekeluargaan yang ditunjukkan oleh para karyawan BRI menumbuhkan rasa respek yang mendalam. Keadaan tersebut menyederhanakan tujuan hidup penulis dengan fokus pada penyelesaian pendidikan, guna memenuhi obsesi menjadi pegawai BRI.

Pada tahun 1969 penulis selesai sekolah dari Perguruan Tinggi dan lulus test masuk beberapa Bank Pemerintah dan BI. Tanpa ragu penulis memilih BRI dan ayah yang telah pensiun sangat mendukung keputusan tersebut. Beliau berpesan agar bekerja sepenuhya untuk kepentingan BRI, tanpa mempertimbangkan bahwa penghasilan di BRI sat itu relative lebih kecil dibandingkan dengan bank lain. Bahkan beliau berjanji akan membantu mencarikan jalan untuk menambah penghasilan tanpa menggangu BRI. Jalan apa yang akan dicarikan oleh ayah, hal tersebut akan penulis paparkan dalam tulisan berikutnya yaitu “ Menjalankan passive income sambil bekerja di BRI”

Demikanlah kisah ini merupakan pengalaman penulis sendiri ditambah keterangan dari ayah dan ibu, namun karena kejadiannya telah lama berlalu tentu banyak hal yang kurang akurat. Untuk mana penulis mohon maaf

Terima kasih.

Mengetuk pintu untuk keluar dari ruangan PINCA

Oleh : M Effendi Ardjosupeno

Semarang.

Kejadiannya tahun 1991 didalah satu Kantor Cabang BRI di wilayah Kantor Wilayah BRI Medan, penulis sedang meminta “pertanggung jawaban” seorang Unit Bisnis Manager (UBM) mengenai beberapa masalah pekerjaan sehari hari. Penulis menyampaikan ketidak puasan atas pelaksanaan tugas dari sang UBM yang sangat lambat. Dan yang lebih menjengkelkan lagi alasan yang disampaikan tidak masuk akal dan terkesan dicari –cari.

Mendengar ucapan penulis yang keras disertai munculnya emosi yang mulai tidak terkendali, UBM menjadi takut dan gemetaran, mungkin juga karena merasa bersalah ; “ begini saya minta saudara harus sudah dapat menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tadi paling lambat sebelum akhir minggu ini ! saya tunggu laporan saudara lebih cepat lebih baik, kalau tidak bisa akan saya berikan sanksi kepada saudara” ucap penulis mengakhiri perbincangan tersebut. “ Ya pak mohon maafdan mohon ijin kembali ketempat tugas” jawab UBM sambil berdiri dan mendorong kembali kursi yang tadi diduduki mendekat kemeja.

Anehnya . . . . .ketika hendak membuka pintu ruangan untuk keluar dia malah mengetuk pintu layaknya seorang hendak masuk. upanya karena demikian takutnya dengan “gertakan” penulis tadi sehingga dia gugup dan grogi. Sampai – sampai tanpa sadar ia mengetuk pintu padahal tujuannya mau keluar ruangan PINCA.

Menyaksikan adegan tersebut penulis segara lari kekamar mandi yang ada diruangan dan tertawa terpingkal – pingkal. Astaghafirullah, saya telah membuat seorang menjadi begitu gugup dan grogi seperti itu. Memang UBM ini orangnya termasuk antik sekaligus telmi dengan usia yang dua tahun lebih tua dari penulis., tetapi saya pikir dan kemampuan manejerial sebagai UBM sangat rendah. Apa hendak dikata, memang demikianlah mutu SDM di KANCA tersebut.

Namun setelah kejadian tersebut, UBM bersikap biasa – biasa saja dengan penulis, malah setiap hari Sabtutetap sama – sama main tennis bersama rekan sekantor lainnya.

Mengikuti SUSPIN, sambil duduk diatas ban scooter.

Oleh : Syamsu'udhi Wongsoharsono

Jakarta



Sebuah pengalaman unik yang benar – benar penulis alami saat mengikuti SUSPIN II di PUSDIK Gatot Subroto tahun 1982. Penulis sebagai salah satu peserta kursus tersebut saat itu sebagai PINCA BRI Kayuagung, Sumatera Selatan. Pada awal minggu dimulainya klasikal di PUSDIK BRI tersebut, penulis mendapat karunia berupa gangguan kesehatan, yaitu penyakit wasir kambuhan (sering disebut sebagai ambein atau hemarroid) yang mendadak kumat. Bisa jadi karena stress memikirkan akan adanya ujian – ujian.

Bagi para pembaca yang pernah mengalami gangguan penyakit serupa dapatlah membayangkan penderitaan yang harus ditanggung. Sepintas lalu penyakit tersebut tidak nampak dari luar, tetapi bagi si penderita sering menyeringai karena rasa sakitnya yang tidak dapat diutarakan dengan kata – kata, pokoknya suuuakit banget deh ! Konon menurut para wanita yang pernah mengalaminya, tidak kalah askitnya seorang wanita tatkala akan melahirkan seorang jabang bayi. Wallahualam !. Namun demikian demi dapat melaksanakan SUSPIN degan baik maka penulis rela bersusah payah daam ihtiar untuk dapat berobat jalan sambil belajar. Saat itu rasa sakitnya sudah tak tertahankan lagi, dalam ketegangan yang memuncak (maaf : anus), penulis segera berobat ke RS PELNI di jalan Jati Petamburan. Setelah diperiksa oleh salah seorang dokterahli bedah penulis divonis segera harus operasi pada hari itu juga. Dalam benak terpikir apabila jadi operasi dirumah sakit tersebut maka penulis harus tidur dalam posisi terlentang untuk beberapa hari / minggu sambil menunggu proses penyembuhan. Hal tersebut akan berakibat penulis tidak mungkin bisa mengikuti klasikal meskipun penyakitnya sembuh, tetapi akibatnya akan gagal mengikuti SUSPIN.

Alhamdulillah, dalam kondisis kritis rupanya penulis dipertemukan Allah dengan seseorang sebagai “malaikat penyelamat” yaitu bapak Sutanto Hadinoto. Saat itu beliau menjabat sebagai Kepala Bagian pendidikan Daerah di Biro Pendidikan yang dalam perjalanan karirnya dikemudian hari menjadi salah seorang Direktur BRI. Beliau menasehati kalau ingin berobat wasir sambil dapat terus belajar maka disarankan agar berkonsultasi dengan seorang Sin she (khusus ahli wasir) yang berpraktek di jalan Hayam Wuruk Jakarta.

Untunglah (masih untung walaupun buntung), saat itu di PUSDIK BRI tersedia sebuah taksi yang khusus dikontrak yang boleh dipakai para siswa yang memerlukan. Sehingga penulis dapat memanfaatkannya guna berobat ketempat Sinshe pergi – pulang, siang setelah pelajaran usai. Jadi kalau para siswa setelah selesai jam pelajaran ada acara ISOMA (istirahat, sholat, makan siang) yang kemudian disambung dengan tidur siang. Sebaliknya penulis harus tergopoh – gopoh, cepat – cepat menuju ketempat praktek Sinshe di jalan Hayam Wuruk, dengan harapan harus sudah kembali lagi ke PUSDIK untuk dapat mengikuti klasikal pada sore dan malam harinya.

Dan uniknya selama klasikal berlangsung, penulis selalu menenteng sebuah ban dalam ( ukuran ban scooter ) isi angin. Ban tersebut berfungsi sebagai alas duduk baik dikamar asrama maupun dikelas pada pagi, siang, sore atau malam hari. Berkat sarana ban scooter dan berkat kegigihan penulis konsul ke Sinshe tersebut, maka pada akhir SUSPIN II kondisi wasir kambuhan tetap dalam kondisi “ aman terkendali”.

Rasa syukur dan terima kasih kepada bapak Sutanto yang telah memberi nasehat yang sangat bermanfaat kepada penulis. Berkat nasehat tersebut penulis tetap bisa mengikuti SUSPIN II sampai selesai. Semoga Allah membalas amalan budi baiknya. Dikemudian hari pada suatu kesempatan penulis bertemu beliau pada saat menunaikan ibadah Haji di Mekah / Madinah pada tahun 1992.

Demikianlah sekelumit perjuangan dalam menghadapi cobaan yang harus dilakoni dengan penuh kesabaran, ketabahan dan ketaqwaan kepada Yang Maha Pencipta. Akhirnya penulis dapat menyelesaikan SUSPIN sampai saatnya kembali bekerja di KANCA BRI Kayuagung. Inilah sebuah pengalaman unik yang tidak akan pernah penulis lupakan sepanjang hayat dikandung badan.

Amin.

Komersialisasi hobby

Oleh : Suharsono

Jakarta.

Sejak kecil saya mempunyai hobbby dan sedikit kebiasaan membuat berbagai macam barang “pekerjaan tangan” dan menggambar. Di SMA saya cukup aktif menjalankan hobbby itu dalam bentuk menggambar vignette (gambar hias) dan sketsa menggunakan tinta bak (tinta cina) dan pen kodok. Sekali – kali saya juga menggambar dengan cat air.

Vignette dan sketsa saya waktu itu sering dimuat di Koran Harian Umum yang terbit di Surabaya, yang setiap hari Kamis memuat rubrik seni dan budaya. Juga diharian Suluh Indonesia dan mingguan Berita Minggu yang terbit di Jakarta.

Selama mengikuti pendidikan di SEKAPIN BKTN, hobbby dan sedikit kebiasaan itu juga sempat mendapat penyaluran. Saya sempat mengikuti lomba logo dan lambang untuk toko serba ada Sarinah di Jalan Thamrin dan Hotel Banteng (sekarang Hotel Borobudur) yang saat itu baru dibuka, walaupun keduanya tidak menang.

Bersama – sama siswa yang lain saya membuat majalah kecil “Varia Diklat”, majalah itu sangat sederhana berukuran kertas A5 (atau A4 dilipat dua). Majalah itu bukan dalam bentuk cetakan melainkan stensilan . Dengan demikian majalah itu tidak berwarna dan tidak pula hitam putih, tetapi hitam kuning pucat kecoklatan. Kertas stensil memang berwarna kuning agak kecoklatan.

Teknologi stensil saat ini sudah punah, jaman tahun enampuluhan itu semua barang cetakan yang dibuat dalam jumlah yang banyak kalau tidak dicetak ya distensil. Semua Surat Keputusan (SK) Surat Edaran (SE) Kantor Pusat BKTN juga distensil. Yang namanya fotocopy pada saat itu belum dikenal, apalagi printer komputer yang dotmatrix, apalagi yang daiysywheel, apalagi printer inkjet, apalagi laserprinter, apalagi photoprinter, apalagi scanner .

Setiap akan terbit artikel dan tulisan yang akan dimuat dimajalah internal DIKLAT BKTN itu harus diketik diatas lembaran khusus (stencil sheet) menggunakan mesin tik yang pitanya tintanya dilepas. Tujuannya memang untuk membuat lubang – lubang huruf dilembaran stencil sheet dengan pukulan huruf – huruf mesin tik. Stencil sheet yang sudah berlubang – lubang bekas pukulan huruf mesin ketik itu berfungsi semacam screen sablon, yang kemudian diputar (dengan tangan atau dengan motor listrik) di silinder (roll) mesin stensil. Dengan demikian tinta stensil yang dilumurkan pada rol mesin stensil itu akan membentuk tulisan dikertas melalui lubang – lubang tadi. Yang disebut tinta stensil itu tidak berbentuk cairan seperti tinta biasa, tetapi kental pekat seperti salep “ichtiool” untuk obat bisul yang berwarna hitam. Atau seperti odol pasta gigi tetapi warnanya hitam, Kemasannya ya berupa tube “plothotan” seperti odol juga. Atau seperti tube plothotan cat minyak, tetapi ukurannya lebih besar. Lebih besar dari lengan bayi yang gemuk.

Walaupun sangat sederhana, majalah itu juga tetap memperhatikan aspek estetika. Setiap kali terbit, diperlukan bberapa tulisan dengan huruf hias yang besar – besardalam berbagai bentuk atau gaya (font), yang tentunya tidak dapat dibuat dengan mesin tik. Disamping itu juga perlu dibubuhi satu dua gambar (ilustrasi) sekadarnya.

Sayalah yang bertanggung jawab untuk membuat tulisan huruf hias dan ilustrasi itu. Untuk itu saya harus menulis huruf – huruf besar berbagai bentuk dan gaya, serta menggambar ilustrasi diatas lembaran stencil sheet dengan pena atau pensil khusus bermata logam berujung agak runcing, bertangkai kayu.

Setiap kali diadakan acara di asrama atau di kantor cabang waktu saya job trainning, saya juga selalu kebagian peran bagian dekorasi. Pada jaman itu yang banyak digunakan untuk dekorasi adalah pita –pita dari kertas crepe atau kertas kelobot, balon karet warna – warni, tali ijuk, payung kertas (baik yang masih ada kertasnya, maupun yang tinggal kerangkanya). Juga kain dari serat karung (bagor) dan nampan (tampah) anyaman bambu yang ditulisi dan digambari. Sering juga dilengkapi untaian atau rangkaian janur kuning, atau daun tanaman semacam pakis atau palem yang getahnya juga digunakan untuk membuat lem, atau tanaman asparagus yang daunnya lembut runcing seperti jarum.

Suatu hari, beberapa hari setelah selesai menempuh ujian akhir, bulan Juni 1966 saya dipanggil oleh pak Purwanto Adhi Kepala Seksi Pengajaran di DIKLAT BKTN, yang kantornya juga di kompleks kampus dan asrama jalan Cut Mutiah 22 – Pasar Boplo – Gondangdia. Saya agak terkejut ketika beliau ternyata meminta saya untuk membantunya mengisi / menulis blanko – blanko ijazah untuk semua siswa SEKAPIN Angkatan I, termasuk ijazah saya sendiri. Ketika saya tanyakan kenapa beliau memnita saya untuk untuk menulis blanko ijazah itu, pak pejabat itu hanya mengatakan karena beliau tahu saya senang dan dapat menulis (tulisan hias) menggunakan pen dan tinta cina. Lagipula beliau juga tahu bahwa dari nilai ujian saya ternyata saya lulus. Beliau juga berpesan agar pekerjaan “penting” itu dirahasiakan dan harus saya kerjakan secara diam – diam, jangan sampai diketahui siswa – siswa yang lain. Pelerjaan penting dan rahasia itu harus saya lakukan diruang kantor pak Kepala Seksi itu. Yang saya lakukan pertama kali saat memulai pekerjaan menulis ijazah itu adalah memilih blanko ijazah yang paling bagus dan rapi, untuk saya sendiri. Sore harinya saya ke Kantor Pos Gondangdia mengirim warkatpos ke Blitar, memberi tahu orang tua bahwa saya telah lulus pendidikan dengan hasil yang baik, barangkali cenderung memuaskan. Karena pada waktu itu belum ada mesin fotocopy , tentu saja saya tidak bisa melampirkan fotocopy ijazah saya yang baru saja saya tulis sendiri, lagipula kan “rahasia”.

Perlu saya tambahkan bahwa yang dimaksud dengan warkatpos yang dijual di kantor pos itu adalah selembar kertas warna biru muda selebar ukuran letter, dapat menampung tulisan atau berita yang cukup panjang. Setelah ditulis, kertas itu dapat dilipat menjadi lipatan persegi seukuran amplop kecil. Didepan lipatan tercetak kolom untuk menuliskan alamat surat, disebelah belakang untuk alamat pengirim. Ujung lipatan biasanya kemudian dijilat untuk membasahi lem kering untuk merekatkan ujung lipatan itu. Lalu ditempeli perangko (dijilat juga) jadilah sebuah bentuk surat yang sangat praktis dan aman, tidak dapat dibaca orang lain seperti halnya kartupos dan tidak usah repot – repot memakai amplop.

Kembali tentang penulisan ijazah entah bagaimana ceritanya (saya sudah lupa), rahasia tentang pekerjaan menulis ijazah itu ternyata bocor ketika baru berjalan dua hari. Beberapa orang siswa mulai mendekati saya, tentu saja dengan maksud untuk memperoleh “bocoran” berkaitan dengan hasil akhir pendidikan itu. Karena ijazah itu dilampiri dengan daftar nilai hasil ujian dan nomor urut prestasi atau ranking tingkat kecakapan masing – masing siswa, saya memiliki semua informasi tentang hasil akhir dari jerih payah semua siswa SEKAPIN Angkatan I selama pendidikan.

Saya paham betul seperti halnya untuk saya sendiri, informasi yang saya “kuasai” itu sangat penting untuk siswa – siswa yang lain. Ada yang kebelet untuk segera memberitahukan kepada orang tuanya, ada yang harus segera mengabarkan kepastian kelulusannya kepada pacarnya, bahkan ada juga yang (katanya) harus secepatnya memberitahukan berita kelulusannya kepada calon mertua, untuk digunakan sebagai pertimbangan penentuan hari perkawinan setelah tamat pendidikan. Macam – macamlah, pokoknya lumayan berat tekanan dan rayuan yang harus saya hadapi.

Memahami dan menghayati betapa penting dan bergengsinya posisi saya dan betapa besar wewenang dan kekuasaan saya berkenaan dengan informasi hasil pendidikan semua siswa SEKAPIN Angkatan I itu, mulailah timbul hasrat iseng untuk mencoba meng komersialkan nya dikalangan teman – teman siswa. Dengan segera saya membuat tabel imajiner dengan hanya dua buah kolom, dikolom pertama saya urutkan nama – nama semua siswa . Dimulai dengan siswa yang menurut saya paling ngebet untuk segera mengetahui hasil pendidikannya sampai kepada mereka (hanya tiga orang) yang hanya bersikap seenaknya, santai, cuek, sepertinya tidak mau peduli lulus atau tidak, atau yakin betul pasti lulus. Pada kolom kedua saya cantumkan kemungkinan potensi dan tingkat kesediaan masing – masing siswa untuk berkorban demi untuk memperoleh informasi tentang hasil pendidikannya itu. Selanjutnya berbekal tabel angan – angan itu saya melakukan pendekatan dengan hati – hati. Saya mulai dengan seorang siswa yang didalam tabel imajiner saya berada diurutan tengah dan berhasil. Saya lepaskan informasi bahwa dia lulus, walaupun dengan hasil (maaf) tidak terlalu menggembirakan dan untuk informasiitu saya mendapat imbalan sepiring gado – gado Boplo dibelakang asrama. Karena gado – gado itu memang lezat dan waktu itu saya sedang kelaparan saya menambah sepiring lagi namun harus bayar sendiri, teman saya itu mati – matian tidak mau membayar sepiring gado – gado tambahan yang saya makan itu diluar perjanjian, begitu alasannya.

Begitulah proyek komersial saya berjalan terus, beberapa orang teman siswa yang sangat ingin tahu tentang hasil ujian dan nasibnya, bersedia mentraktir saya nonton film koboi di Bioskop Trivoli di Kramat, kalau di Bioskop Metropole (kemudian bernama Megaria) katanya terlalu mahal.

Ada juga yang tidak berkeberatan untuk menukar informasi itu dengan satu dua pak rokok merk Kansas, yang lain lagi dengan senang hati membelikan saya duapuluh biji tahu pong. Ada juga yang sedikit saya paksa untuk mentraktir dua sop kaki kambing didepan Bioskop Menteng dekat lapangan PERSIJA. Ada siswa yang memang sedikit “kaya” dan bersedia membelikan saya sepasang kaos kaki nylon di Toko Babah Gemuk di Pasar Senen, namun ada juga siswa yang pelitnya kelewatan, hanya bersedia memberikan pisang dan rambutan jatah makan siang selama tiga hari.

Kepada mereka saya minta wanti –wanti untuk tetap menjaga rahasia dan untuk berpura – pura tidak tahu apa – apa sampai ijazah itu nanti dibagikan.

Lumayan.

WATANSOPPENG


Oleh : Dadi Effendi

Jakarta



Kabupaten Watansoppeng terletak di Sulawesi Selatan jaraknya 175 KM dari Makasar arah utara. Soppeng ibu kotanya kecil, bersih dan berhawa sejuk karena dibawah kaki pegunungan. Yang lebih mengesankan adalah kemakmuran penduduknya merata sampai kedesa – desa. Dan seperti umumnya para petani mereka sederhana dan ramah termasuk para pegawai BRI yang sangat kental rasa kekeluargaannya.

Kesanalah pada tahun 1980 penulis ditetapkan menjadi PINCA BRI untuk pertama kalinya. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah PINCA lama tidak bersedia menyerahkan jabatannya. Namun oleh karena kemudian mulai bertindak destruktif dengan mengobral kredit, penulis diminta secepatnya untuk mengambil alih KANCA tersebut.

Serah terima batal

Menjelang serah terima, hadir seorang Kepala Bagian yang mewakili Kantor Wilayah. Tetapi sebelum waktunya ia melakukan tindakan aneh, yaitu pergi kerumah Pemimpin Cabang menyerahkan bingkisan kenang - kenangan dari Pemimpin Wilayah dan langsung kembali pulang ke Makasar. Rupanya yang bersangkutan khawatir terlibat, karena sebelumnya Pemimpin Cabang mengancam akan menghabisi siapa saja yang berani mengambil alih jabatannya.

Akhirnya penulis berangkat ke BRI sendirian, suasana kantor tegang dan tidak ada persiapan sama sekali untuk serah terima jabatan. Dibawah tatapan mata seluruh karyawan, penulis masuk keruang PINCA dan bertemu dengan bapak Ali Cono. Beliau langsung mengutarakan rasa kekecewaannya atas mutasi yang ada. Semula mestinya sebagai WAPINCA di Jawa, tapi kemudian dirubah menjadi PINCA ditempat lain. Kemudian penulispun menyampaikan hal yang sama, yaitu rasa kecewa bahwa seharusnya juga mendapat KANCA yang lebih besar.

Akhirnya disepakati bahwa serah terima akan dilakukan sebulan lagi karena yang bersangkutan harus mengikuti Penataran P4. Sebulan kemudian tibalah saatnya untuk dilaksanakan serah terima serah terima jabatan. Mungkin terkesan akan kesabaran penulis, beliau memeluk dan meminta maaf didepan seluruh hadirin.

Lain ladang lain belalang

Beda budaya, lain pula kebiasaannya. Penulis tinggal dirumah dinas, pada suatu malam listrik mati sehingga meminta pesuruh untuk membeli lilin dan korek api. Karena tidak ada uang kecil, penulis berikan uang Rp 10.000,- yang waktu itu sangat berharga . Setelah lama menunggu datanglah si pesuruh membawa keranjang besar berisi lilin dan korek api cukup dipakai untuk setahun. Rupanya ditempat yang baru ini dalam memberikan perintah harus jelas dan mendetail !.

Buah sukun dan petai cina.

Disuatu kesempatan sewaktu turne penulis melihat pohon sukun dan minta dicarikan buahnya. Sewaktu pulang dapatlah beberapa karung buah sukun. Tapi rupanya buah yang begitu enak bila digoreng itu ditempat tersebut untuk makanan sapi .

Demikian pula ketika isteri meminta petai cina, anak – anak UDES dengan tertawa –tawa dan berceloteh (dalam bahasa Bugis) mengirimkannya kerumah. Anak – anak yang paham bahasa tersebut menyatakan bahwa di kampunya jangankan manusia, hewanpun tidak mau menyantapnya.

Makan ikan mentah.

Di Soppeng, setahun sekali diadakan pesta ikan di danau Tempe. Sambil menaiki perahu para pejabat menjaring ikan yang banyak terdapat didanau tersebut. Setelah dibersihkan dengan cara membuang isi perut ikan kemudian diselupkan kedalam campuran cuka dan air jeruk nipis dan langsung dimakan. Para pejabat yang berasal dari Pulau Jawa merasa heran, karena penulis bersama bupati dapat memakan ikan mentah tersebut. Memang makanan tersebut sebelumnya merupakan kesukaan penulis, waktu di Jawa salah satunya adalah shasimi, ikan mentah ala Jepang.

Dikira anak Sultan.

Pada jaman sebelum perang Soppeng merupakan sebuah kerajaan. Salah satu anak raja kebetulan menjadi KAUDES dan sering penulis ajak turnee kedesa – desa untuk iktu memberikan pengarahan kepada nasabah dan para petani. Alangkah takjubnya mereka melihat anak raja membantu PINCA membawakan tas kerjanya. Akhirnya muncul rumor diantara mereka bahwa penulis merupakan salah satu anak Sultan dari Jawa. Mengapa , karena hanya anak Sultanlah yang mampu dan bisa memerintah anak Raja.

Hikmah kunjungan DIRUT.

Suatu ketika bapak Permadi SE (DIRUT BRI) berkunjung ke Soppeng mengikuti rombongan SEKDALOBANG bapak Solihin GP. Pak Solihin akan memberikan penghargaan kepada Bupati, karena telah sukses dalam proyek intensifikasi pangan dan pengembalian kredit. Penulis mendapat kesempatan untuk presentasi tentang kiat – kiat menghindari tunggakan kredit. Dalam kesempatan itu penulis menyatakan antara lain menepis anggapan bahwa kegagalan proyek dan terjadinya tunggakan kredit adalah sebagai akibat rendahnya mutu traktor dan alat – alat pertanian. Pada waktu istirahat penulis didatangi para importir traktor dan alat pertanian, mereka mengucapkan terima kasih atas materi / isi presentasi dan langsung mengundang untuk mengunjungi Jepang guna melihat pabrik – pabrik mereka.

Keesokan harinya anugerah lain tiba yaitu bapak Sumirat, Inspektur yang mendampingi bapak DIRUT menghubungi lewat telpon, baliau menyatakan bahwa bapak DIRUT sangat terkesan dengan presentasi penulis dan bermaksud memberikan promosi jabatan. Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian impian penulis tercapai, yaitu diangkat menjadi PINCA tingkat propinsi dan untuk pertama kali bepergian keluar negeri gratis pula.

Tradisi “ Nyadran “ atau “ Ruwahan”


Oleh : Sukoyo
Yogyakarta



Bulan Nopember 2005 tepatnya tanggal 5, menurut perhitungan kalender Jawa ( Tahun Saka) kita memasuki bulan Ruwah, atau bulan Sya’ban (Tahun Qamariyah). Bulan Ruwah memiliki arti khusu bagi masyarakat Jawa, yang biasa dikenal dengan “nyadran”

Nyadran adalah istilah bahasa Jawa yang mengandung arti olah hati atau dari bahasa Arab “sadran” yang artinya dada. Orang Sunda mempunyai istilah yang mirip yaitu “nadran”. Karena dilakukan pada bulan Ruwah maka tradisi nyadran tersebut lazim disebut Ruwahan. Nyadran adalah tradisi masyarakat Jawa, yaitu ziarah kubur kemakam leluhur atau sanak keluarga yang dilakukan khusus dalam bulan Ruwah / Sya’ban. Masyarakat Betawipun mempunyai kebiasaan tersebut, meski tidak menyebutnya nyadran. Kebiasaan ziarah kubur sendiri sebenarnya telah lazim dilakukan secara rutin khususnya oleh masyarakat suku Jawa, umumnya pada setiap hari Kamis malam Ju’mat yang dikenal dengan ngirim atau nyekar.

Apa yang dilakukan dalam tradisi nyadran ?

Sebelum ziarah kubur, makam atau kuburan dibersihkan dari semak – semak. Setiap orang membersihkan makam leluhur masing – masing, disamping secara bersama – sama membersihkan kawasan makam dengan cara mengapur atau mengecatpagar tembok makam sehingga suasana makam menjadi bersih dari hari – hari biasa . Keiatan tersebut biasa dilakukan didesa – desa di Jawa, yang disebut besik desa atau membersihkan desa. Dimasyarakat perkotaan , kegiatan tersebut dilakukan secara sendiri – sendiri , biasanya menyuruh orang lain dengan cara memberi upah. Selanjutnya dilakukan acar ziarah kubur, yang pelaksanaannya bisa dilakukan secara perseorangan atau sendiri – sendiri . Cara ini dilakukan orang – perorang, tidak terikat waktu, yang penting dilaksanakan selama selama dalam bulan Ruwah.

Acara Nyadran yang dilaksanakan secara bersama – sama.

Setiap desa mempunyai tradisi atau cara yang berbeda baik waktu maupun tata upacaranya. Waktu pelaksanaannya setiap desa mempunyai kebiasaan yang sudah tetap sesuai kesepakatan masing – masing. Ada yang 15, 20 , 25 Ruwah atau tanggal lainnya tetapi pelaksanaan terakhir menjelang bulan Ramadhan.. Penulis selalu mengikuti perkembangan nyadran, mengalami dan menyaksikan sendiri sejak usia kanak – kanak. Dari pengalaman sejak masa kanak – kanak (labih dari limapuluh tahun yang lalu) mengikuti acara nyadran dibeberapa tempat, umumnya dilakukan sebagai berikut :
Dilaksanakan pada siang hari stetelah sholat Duhur atau Ashar. Penduduk desa berkumpul bersama, mengambil tempat dipusara / makam leluhur masing – masing. Setiap keluarga membawa perlengkapan yang standar ; terdiri dari nasi tumpeng lengkap dengan jajan pasar serta ubo rampe lainnya. Penulis masih ingat jenis jajan pasarnya terdiri makanan tradisional seperti ; jadah, wajik, lemper dan makanan khas brondong, kemudian terdapat buah – buah masa itu yaitu jeruk yang kecut, salak yang sepet, belimbing, besusu atau bengkoang dan lain sebagainya.
Saat ini jenis makanan yang dibawa sudah disesuaikan dengan kemajuan jaman, misalnya buah buahan impor seperti apel, anggur, pier, jeruk, kelengkeng, kemudian berbagai makanan kecil produk bakery, nasi kuning bahkan ada yang membawa berbagai minuman ringan seperti es dawt, coctail.
Memasuki acara dimulai dengan sambutan panitia dan sesepuh desa, dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yassin, Tahlil, Zikir dan ditutup dengan doa. Dilanjutkan dengan makan bersama, biasanya dilakukan dengan tukar – menukar makanan diantara yang hadir. Dulu acara ini diisi dengan rebutan makanan diantara yang hadir, khususnya anak – anak. Selain itu merupakan kesempatan yang baik, karena banyak diantara mereka sudah jarang ketemu meski sama –sama penduduk tersebut desa tersebut, karena telah pindah atau menetap dari tempat lain. Mereka berasal dari berbagai temapt, banyak diantaranya berasal dari Jakarta yang memang secara khusus menyempatan diri datang pada saat acara nyadran.

Islam, ziarah kubur dan tradisi nyadran.

Menghormati arwah leluhur merupakan kebiasaan umum yang berlaku universal, dimana, kapan dan berlaku pada pada beberapa berbagai etnis di dunia. Pada beberapa agama mengajarkan penghormatan kepada arwah leluhur dengan motivasi yang berbeda – beda. Dikalangan etnis bangsa Arab dapat diketehui dari sebuas Hadis Rasulullah sbb : Dahulu aku melarangmu menziarahi kubur akan mengingatkanmu akan akhirat (HR Muslim, Abu Dawud dan Tarmizi). Di negeri Arab makam atau kuburan hanya ditandai dengan sebongkah batu, sebagai tanda adanya seseorang yang dikubur ditempat itu, disana tidak dikenal adanya batu nasan atau kijing seperti yang banyak kita jumpai di Indonesia, khusunya di Jawa. Ziarah kubur dapat ditelusuri asal usulnya dari tradisi Hindu Jawa. Jaman dulu ada anggapan bahwa raja merupakan titisan dewa, sehingga ada ajaran kultus kepada raja, baik yang masih hidup mapun yang sudah meninggal dunia. Pada perkembangan selanjutnya, yang dihormati dan diminta pertolongan bukan hanya kepada roh para raja, tetapi juga roh orang – orang yang dianggap suci ketika hidupnya, seperti para tokoh agama, wali, orang – orang sakti dan juga nenek moyang. Tata cara penghormatan kepada arwah tersebut dalam bentuk berdoa, menyiram air yang sudah diberi doa ketas pusara, menaburkan bunga, membakar kemenyan dan meminta sesuatu kepada arwah.

Didalam ajaran Islam kehidupan setelah kematian, merupakan salah satu pilar keimanan yang wajib diyakini . Bagi orang yang sudah mati, sebelum datangnya alam alhirat mereka tinggal dialam kubur yang disebut alam barzakh. Agama Islam mengajarkan wajibnya orang hidup mendoakan orang yang sudah mati. Rasulullah pernah bersabda “ Jika seorang anak Adam(manusia) mati , putuslah segala amalannya kecuali tiga hal : sadaqah jariyah, anak salih yang mendoakan keselamatan orang tuanyadan ilmu yang bermanfaat yang pernah (HR Muslim, Abu Dawud dan Tarmizi). Didalam QS surat Al – Isra’ 23 – 24 Allah mengajarkan bagaimana orang Islam seharusnya menghormati orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Dalam ajaran Islam, orang yang sudah mati tidak bisa memberi pertolongan apapun kepada orang yang masih hidup.

Sedangkan mengenai budaya nyadran sendiri juga berasal dari tradisi Hindu Jawa, yang melalui proses akulturasi menjadi bernuansa Islami. Pada masa proses penyebaran agama Islam yang dilakukan para Juru Dakwah termasuk Walisongo di Jawa, mereka melakukan secara persuasif. Mereka membiarkan pranata – pranata sosial keagamaan lama tetap hidup sambil secara perlahan – lahan di Islamkan. Pada awalnya tidak ada pembacaan Al Qur’an (Surat Yassin), Tahlil dan Zikir, kemudian diadakan. Semula meminta sesuatu kepada para arwah leluhur, kemudian hanya mendoakan mereka saja.