WATANSOPPENG


Oleh : Dadi Effendi

Jakarta



Kabupaten Watansoppeng terletak di Sulawesi Selatan jaraknya 175 KM dari Makasar arah utara. Soppeng ibu kotanya kecil, bersih dan berhawa sejuk karena dibawah kaki pegunungan. Yang lebih mengesankan adalah kemakmuran penduduknya merata sampai kedesa – desa. Dan seperti umumnya para petani mereka sederhana dan ramah termasuk para pegawai BRI yang sangat kental rasa kekeluargaannya.

Kesanalah pada tahun 1980 penulis ditetapkan menjadi PINCA BRI untuk pertama kalinya. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah PINCA lama tidak bersedia menyerahkan jabatannya. Namun oleh karena kemudian mulai bertindak destruktif dengan mengobral kredit, penulis diminta secepatnya untuk mengambil alih KANCA tersebut.

Serah terima batal

Menjelang serah terima, hadir seorang Kepala Bagian yang mewakili Kantor Wilayah. Tetapi sebelum waktunya ia melakukan tindakan aneh, yaitu pergi kerumah Pemimpin Cabang menyerahkan bingkisan kenang - kenangan dari Pemimpin Wilayah dan langsung kembali pulang ke Makasar. Rupanya yang bersangkutan khawatir terlibat, karena sebelumnya Pemimpin Cabang mengancam akan menghabisi siapa saja yang berani mengambil alih jabatannya.

Akhirnya penulis berangkat ke BRI sendirian, suasana kantor tegang dan tidak ada persiapan sama sekali untuk serah terima jabatan. Dibawah tatapan mata seluruh karyawan, penulis masuk keruang PINCA dan bertemu dengan bapak Ali Cono. Beliau langsung mengutarakan rasa kekecewaannya atas mutasi yang ada. Semula mestinya sebagai WAPINCA di Jawa, tapi kemudian dirubah menjadi PINCA ditempat lain. Kemudian penulispun menyampaikan hal yang sama, yaitu rasa kecewa bahwa seharusnya juga mendapat KANCA yang lebih besar.

Akhirnya disepakati bahwa serah terima akan dilakukan sebulan lagi karena yang bersangkutan harus mengikuti Penataran P4. Sebulan kemudian tibalah saatnya untuk dilaksanakan serah terima serah terima jabatan. Mungkin terkesan akan kesabaran penulis, beliau memeluk dan meminta maaf didepan seluruh hadirin.

Lain ladang lain belalang

Beda budaya, lain pula kebiasaannya. Penulis tinggal dirumah dinas, pada suatu malam listrik mati sehingga meminta pesuruh untuk membeli lilin dan korek api. Karena tidak ada uang kecil, penulis berikan uang Rp 10.000,- yang waktu itu sangat berharga . Setelah lama menunggu datanglah si pesuruh membawa keranjang besar berisi lilin dan korek api cukup dipakai untuk setahun. Rupanya ditempat yang baru ini dalam memberikan perintah harus jelas dan mendetail !.

Buah sukun dan petai cina.

Disuatu kesempatan sewaktu turne penulis melihat pohon sukun dan minta dicarikan buahnya. Sewaktu pulang dapatlah beberapa karung buah sukun. Tapi rupanya buah yang begitu enak bila digoreng itu ditempat tersebut untuk makanan sapi .

Demikian pula ketika isteri meminta petai cina, anak – anak UDES dengan tertawa –tawa dan berceloteh (dalam bahasa Bugis) mengirimkannya kerumah. Anak – anak yang paham bahasa tersebut menyatakan bahwa di kampunya jangankan manusia, hewanpun tidak mau menyantapnya.

Makan ikan mentah.

Di Soppeng, setahun sekali diadakan pesta ikan di danau Tempe. Sambil menaiki perahu para pejabat menjaring ikan yang banyak terdapat didanau tersebut. Setelah dibersihkan dengan cara membuang isi perut ikan kemudian diselupkan kedalam campuran cuka dan air jeruk nipis dan langsung dimakan. Para pejabat yang berasal dari Pulau Jawa merasa heran, karena penulis bersama bupati dapat memakan ikan mentah tersebut. Memang makanan tersebut sebelumnya merupakan kesukaan penulis, waktu di Jawa salah satunya adalah shasimi, ikan mentah ala Jepang.

Dikira anak Sultan.

Pada jaman sebelum perang Soppeng merupakan sebuah kerajaan. Salah satu anak raja kebetulan menjadi KAUDES dan sering penulis ajak turnee kedesa – desa untuk iktu memberikan pengarahan kepada nasabah dan para petani. Alangkah takjubnya mereka melihat anak raja membantu PINCA membawakan tas kerjanya. Akhirnya muncul rumor diantara mereka bahwa penulis merupakan salah satu anak Sultan dari Jawa. Mengapa , karena hanya anak Sultanlah yang mampu dan bisa memerintah anak Raja.

Hikmah kunjungan DIRUT.

Suatu ketika bapak Permadi SE (DIRUT BRI) berkunjung ke Soppeng mengikuti rombongan SEKDALOBANG bapak Solihin GP. Pak Solihin akan memberikan penghargaan kepada Bupati, karena telah sukses dalam proyek intensifikasi pangan dan pengembalian kredit. Penulis mendapat kesempatan untuk presentasi tentang kiat – kiat menghindari tunggakan kredit. Dalam kesempatan itu penulis menyatakan antara lain menepis anggapan bahwa kegagalan proyek dan terjadinya tunggakan kredit adalah sebagai akibat rendahnya mutu traktor dan alat – alat pertanian. Pada waktu istirahat penulis didatangi para importir traktor dan alat pertanian, mereka mengucapkan terima kasih atas materi / isi presentasi dan langsung mengundang untuk mengunjungi Jepang guna melihat pabrik – pabrik mereka.

Keesokan harinya anugerah lain tiba yaitu bapak Sumirat, Inspektur yang mendampingi bapak DIRUT menghubungi lewat telpon, baliau menyatakan bahwa bapak DIRUT sangat terkesan dengan presentasi penulis dan bermaksud memberikan promosi jabatan. Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian impian penulis tercapai, yaitu diangkat menjadi PINCA tingkat propinsi dan untuk pertama kali bepergian keluar negeri gratis pula.

Tidak ada komentar: