Komersialisasi hobby

Oleh : Suharsono

Jakarta.

Sejak kecil saya mempunyai hobbby dan sedikit kebiasaan membuat berbagai macam barang “pekerjaan tangan” dan menggambar. Di SMA saya cukup aktif menjalankan hobbby itu dalam bentuk menggambar vignette (gambar hias) dan sketsa menggunakan tinta bak (tinta cina) dan pen kodok. Sekali – kali saya juga menggambar dengan cat air.

Vignette dan sketsa saya waktu itu sering dimuat di Koran Harian Umum yang terbit di Surabaya, yang setiap hari Kamis memuat rubrik seni dan budaya. Juga diharian Suluh Indonesia dan mingguan Berita Minggu yang terbit di Jakarta.

Selama mengikuti pendidikan di SEKAPIN BKTN, hobbby dan sedikit kebiasaan itu juga sempat mendapat penyaluran. Saya sempat mengikuti lomba logo dan lambang untuk toko serba ada Sarinah di Jalan Thamrin dan Hotel Banteng (sekarang Hotel Borobudur) yang saat itu baru dibuka, walaupun keduanya tidak menang.

Bersama – sama siswa yang lain saya membuat majalah kecil “Varia Diklat”, majalah itu sangat sederhana berukuran kertas A5 (atau A4 dilipat dua). Majalah itu bukan dalam bentuk cetakan melainkan stensilan . Dengan demikian majalah itu tidak berwarna dan tidak pula hitam putih, tetapi hitam kuning pucat kecoklatan. Kertas stensil memang berwarna kuning agak kecoklatan.

Teknologi stensil saat ini sudah punah, jaman tahun enampuluhan itu semua barang cetakan yang dibuat dalam jumlah yang banyak kalau tidak dicetak ya distensil. Semua Surat Keputusan (SK) Surat Edaran (SE) Kantor Pusat BKTN juga distensil. Yang namanya fotocopy pada saat itu belum dikenal, apalagi printer komputer yang dotmatrix, apalagi yang daiysywheel, apalagi printer inkjet, apalagi laserprinter, apalagi photoprinter, apalagi scanner .

Setiap akan terbit artikel dan tulisan yang akan dimuat dimajalah internal DIKLAT BKTN itu harus diketik diatas lembaran khusus (stencil sheet) menggunakan mesin tik yang pitanya tintanya dilepas. Tujuannya memang untuk membuat lubang – lubang huruf dilembaran stencil sheet dengan pukulan huruf – huruf mesin tik. Stencil sheet yang sudah berlubang – lubang bekas pukulan huruf mesin ketik itu berfungsi semacam screen sablon, yang kemudian diputar (dengan tangan atau dengan motor listrik) di silinder (roll) mesin stensil. Dengan demikian tinta stensil yang dilumurkan pada rol mesin stensil itu akan membentuk tulisan dikertas melalui lubang – lubang tadi. Yang disebut tinta stensil itu tidak berbentuk cairan seperti tinta biasa, tetapi kental pekat seperti salep “ichtiool” untuk obat bisul yang berwarna hitam. Atau seperti odol pasta gigi tetapi warnanya hitam, Kemasannya ya berupa tube “plothotan” seperti odol juga. Atau seperti tube plothotan cat minyak, tetapi ukurannya lebih besar. Lebih besar dari lengan bayi yang gemuk.

Walaupun sangat sederhana, majalah itu juga tetap memperhatikan aspek estetika. Setiap kali terbit, diperlukan bberapa tulisan dengan huruf hias yang besar – besardalam berbagai bentuk atau gaya (font), yang tentunya tidak dapat dibuat dengan mesin tik. Disamping itu juga perlu dibubuhi satu dua gambar (ilustrasi) sekadarnya.

Sayalah yang bertanggung jawab untuk membuat tulisan huruf hias dan ilustrasi itu. Untuk itu saya harus menulis huruf – huruf besar berbagai bentuk dan gaya, serta menggambar ilustrasi diatas lembaran stencil sheet dengan pena atau pensil khusus bermata logam berujung agak runcing, bertangkai kayu.

Setiap kali diadakan acara di asrama atau di kantor cabang waktu saya job trainning, saya juga selalu kebagian peran bagian dekorasi. Pada jaman itu yang banyak digunakan untuk dekorasi adalah pita –pita dari kertas crepe atau kertas kelobot, balon karet warna – warni, tali ijuk, payung kertas (baik yang masih ada kertasnya, maupun yang tinggal kerangkanya). Juga kain dari serat karung (bagor) dan nampan (tampah) anyaman bambu yang ditulisi dan digambari. Sering juga dilengkapi untaian atau rangkaian janur kuning, atau daun tanaman semacam pakis atau palem yang getahnya juga digunakan untuk membuat lem, atau tanaman asparagus yang daunnya lembut runcing seperti jarum.

Suatu hari, beberapa hari setelah selesai menempuh ujian akhir, bulan Juni 1966 saya dipanggil oleh pak Purwanto Adhi Kepala Seksi Pengajaran di DIKLAT BKTN, yang kantornya juga di kompleks kampus dan asrama jalan Cut Mutiah 22 – Pasar Boplo – Gondangdia. Saya agak terkejut ketika beliau ternyata meminta saya untuk membantunya mengisi / menulis blanko – blanko ijazah untuk semua siswa SEKAPIN Angkatan I, termasuk ijazah saya sendiri. Ketika saya tanyakan kenapa beliau memnita saya untuk untuk menulis blanko ijazah itu, pak pejabat itu hanya mengatakan karena beliau tahu saya senang dan dapat menulis (tulisan hias) menggunakan pen dan tinta cina. Lagipula beliau juga tahu bahwa dari nilai ujian saya ternyata saya lulus. Beliau juga berpesan agar pekerjaan “penting” itu dirahasiakan dan harus saya kerjakan secara diam – diam, jangan sampai diketahui siswa – siswa yang lain. Pelerjaan penting dan rahasia itu harus saya lakukan diruang kantor pak Kepala Seksi itu. Yang saya lakukan pertama kali saat memulai pekerjaan menulis ijazah itu adalah memilih blanko ijazah yang paling bagus dan rapi, untuk saya sendiri. Sore harinya saya ke Kantor Pos Gondangdia mengirim warkatpos ke Blitar, memberi tahu orang tua bahwa saya telah lulus pendidikan dengan hasil yang baik, barangkali cenderung memuaskan. Karena pada waktu itu belum ada mesin fotocopy , tentu saja saya tidak bisa melampirkan fotocopy ijazah saya yang baru saja saya tulis sendiri, lagipula kan “rahasia”.

Perlu saya tambahkan bahwa yang dimaksud dengan warkatpos yang dijual di kantor pos itu adalah selembar kertas warna biru muda selebar ukuran letter, dapat menampung tulisan atau berita yang cukup panjang. Setelah ditulis, kertas itu dapat dilipat menjadi lipatan persegi seukuran amplop kecil. Didepan lipatan tercetak kolom untuk menuliskan alamat surat, disebelah belakang untuk alamat pengirim. Ujung lipatan biasanya kemudian dijilat untuk membasahi lem kering untuk merekatkan ujung lipatan itu. Lalu ditempeli perangko (dijilat juga) jadilah sebuah bentuk surat yang sangat praktis dan aman, tidak dapat dibaca orang lain seperti halnya kartupos dan tidak usah repot – repot memakai amplop.

Kembali tentang penulisan ijazah entah bagaimana ceritanya (saya sudah lupa), rahasia tentang pekerjaan menulis ijazah itu ternyata bocor ketika baru berjalan dua hari. Beberapa orang siswa mulai mendekati saya, tentu saja dengan maksud untuk memperoleh “bocoran” berkaitan dengan hasil akhir pendidikan itu. Karena ijazah itu dilampiri dengan daftar nilai hasil ujian dan nomor urut prestasi atau ranking tingkat kecakapan masing – masing siswa, saya memiliki semua informasi tentang hasil akhir dari jerih payah semua siswa SEKAPIN Angkatan I selama pendidikan.

Saya paham betul seperti halnya untuk saya sendiri, informasi yang saya “kuasai” itu sangat penting untuk siswa – siswa yang lain. Ada yang kebelet untuk segera memberitahukan kepada orang tuanya, ada yang harus segera mengabarkan kepastian kelulusannya kepada pacarnya, bahkan ada juga yang (katanya) harus secepatnya memberitahukan berita kelulusannya kepada calon mertua, untuk digunakan sebagai pertimbangan penentuan hari perkawinan setelah tamat pendidikan. Macam – macamlah, pokoknya lumayan berat tekanan dan rayuan yang harus saya hadapi.

Memahami dan menghayati betapa penting dan bergengsinya posisi saya dan betapa besar wewenang dan kekuasaan saya berkenaan dengan informasi hasil pendidikan semua siswa SEKAPIN Angkatan I itu, mulailah timbul hasrat iseng untuk mencoba meng komersialkan nya dikalangan teman – teman siswa. Dengan segera saya membuat tabel imajiner dengan hanya dua buah kolom, dikolom pertama saya urutkan nama – nama semua siswa . Dimulai dengan siswa yang menurut saya paling ngebet untuk segera mengetahui hasil pendidikannya sampai kepada mereka (hanya tiga orang) yang hanya bersikap seenaknya, santai, cuek, sepertinya tidak mau peduli lulus atau tidak, atau yakin betul pasti lulus. Pada kolom kedua saya cantumkan kemungkinan potensi dan tingkat kesediaan masing – masing siswa untuk berkorban demi untuk memperoleh informasi tentang hasil pendidikannya itu. Selanjutnya berbekal tabel angan – angan itu saya melakukan pendekatan dengan hati – hati. Saya mulai dengan seorang siswa yang didalam tabel imajiner saya berada diurutan tengah dan berhasil. Saya lepaskan informasi bahwa dia lulus, walaupun dengan hasil (maaf) tidak terlalu menggembirakan dan untuk informasiitu saya mendapat imbalan sepiring gado – gado Boplo dibelakang asrama. Karena gado – gado itu memang lezat dan waktu itu saya sedang kelaparan saya menambah sepiring lagi namun harus bayar sendiri, teman saya itu mati – matian tidak mau membayar sepiring gado – gado tambahan yang saya makan itu diluar perjanjian, begitu alasannya.

Begitulah proyek komersial saya berjalan terus, beberapa orang teman siswa yang sangat ingin tahu tentang hasil ujian dan nasibnya, bersedia mentraktir saya nonton film koboi di Bioskop Trivoli di Kramat, kalau di Bioskop Metropole (kemudian bernama Megaria) katanya terlalu mahal.

Ada juga yang tidak berkeberatan untuk menukar informasi itu dengan satu dua pak rokok merk Kansas, yang lain lagi dengan senang hati membelikan saya duapuluh biji tahu pong. Ada juga yang sedikit saya paksa untuk mentraktir dua sop kaki kambing didepan Bioskop Menteng dekat lapangan PERSIJA. Ada siswa yang memang sedikit “kaya” dan bersedia membelikan saya sepasang kaos kaki nylon di Toko Babah Gemuk di Pasar Senen, namun ada juga siswa yang pelitnya kelewatan, hanya bersedia memberikan pisang dan rambutan jatah makan siang selama tiga hari.

Kepada mereka saya minta wanti –wanti untuk tetap menjaga rahasia dan untuk berpura – pura tidak tahu apa – apa sampai ijazah itu nanti dibagikan.

Lumayan.

Tidak ada komentar: