Mengikuti SUSPIN, sambil duduk diatas ban scooter.

Oleh : Syamsu'udhi Wongsoharsono

Jakarta



Sebuah pengalaman unik yang benar – benar penulis alami saat mengikuti SUSPIN II di PUSDIK Gatot Subroto tahun 1982. Penulis sebagai salah satu peserta kursus tersebut saat itu sebagai PINCA BRI Kayuagung, Sumatera Selatan. Pada awal minggu dimulainya klasikal di PUSDIK BRI tersebut, penulis mendapat karunia berupa gangguan kesehatan, yaitu penyakit wasir kambuhan (sering disebut sebagai ambein atau hemarroid) yang mendadak kumat. Bisa jadi karena stress memikirkan akan adanya ujian – ujian.

Bagi para pembaca yang pernah mengalami gangguan penyakit serupa dapatlah membayangkan penderitaan yang harus ditanggung. Sepintas lalu penyakit tersebut tidak nampak dari luar, tetapi bagi si penderita sering menyeringai karena rasa sakitnya yang tidak dapat diutarakan dengan kata – kata, pokoknya suuuakit banget deh ! Konon menurut para wanita yang pernah mengalaminya, tidak kalah askitnya seorang wanita tatkala akan melahirkan seorang jabang bayi. Wallahualam !. Namun demikian demi dapat melaksanakan SUSPIN degan baik maka penulis rela bersusah payah daam ihtiar untuk dapat berobat jalan sambil belajar. Saat itu rasa sakitnya sudah tak tertahankan lagi, dalam ketegangan yang memuncak (maaf : anus), penulis segera berobat ke RS PELNI di jalan Jati Petamburan. Setelah diperiksa oleh salah seorang dokterahli bedah penulis divonis segera harus operasi pada hari itu juga. Dalam benak terpikir apabila jadi operasi dirumah sakit tersebut maka penulis harus tidur dalam posisi terlentang untuk beberapa hari / minggu sambil menunggu proses penyembuhan. Hal tersebut akan berakibat penulis tidak mungkin bisa mengikuti klasikal meskipun penyakitnya sembuh, tetapi akibatnya akan gagal mengikuti SUSPIN.

Alhamdulillah, dalam kondisis kritis rupanya penulis dipertemukan Allah dengan seseorang sebagai “malaikat penyelamat” yaitu bapak Sutanto Hadinoto. Saat itu beliau menjabat sebagai Kepala Bagian pendidikan Daerah di Biro Pendidikan yang dalam perjalanan karirnya dikemudian hari menjadi salah seorang Direktur BRI. Beliau menasehati kalau ingin berobat wasir sambil dapat terus belajar maka disarankan agar berkonsultasi dengan seorang Sin she (khusus ahli wasir) yang berpraktek di jalan Hayam Wuruk Jakarta.

Untunglah (masih untung walaupun buntung), saat itu di PUSDIK BRI tersedia sebuah taksi yang khusus dikontrak yang boleh dipakai para siswa yang memerlukan. Sehingga penulis dapat memanfaatkannya guna berobat ketempat Sinshe pergi – pulang, siang setelah pelajaran usai. Jadi kalau para siswa setelah selesai jam pelajaran ada acara ISOMA (istirahat, sholat, makan siang) yang kemudian disambung dengan tidur siang. Sebaliknya penulis harus tergopoh – gopoh, cepat – cepat menuju ketempat praktek Sinshe di jalan Hayam Wuruk, dengan harapan harus sudah kembali lagi ke PUSDIK untuk dapat mengikuti klasikal pada sore dan malam harinya.

Dan uniknya selama klasikal berlangsung, penulis selalu menenteng sebuah ban dalam ( ukuran ban scooter ) isi angin. Ban tersebut berfungsi sebagai alas duduk baik dikamar asrama maupun dikelas pada pagi, siang, sore atau malam hari. Berkat sarana ban scooter dan berkat kegigihan penulis konsul ke Sinshe tersebut, maka pada akhir SUSPIN II kondisi wasir kambuhan tetap dalam kondisi “ aman terkendali”.

Rasa syukur dan terima kasih kepada bapak Sutanto yang telah memberi nasehat yang sangat bermanfaat kepada penulis. Berkat nasehat tersebut penulis tetap bisa mengikuti SUSPIN II sampai selesai. Semoga Allah membalas amalan budi baiknya. Dikemudian hari pada suatu kesempatan penulis bertemu beliau pada saat menunaikan ibadah Haji di Mekah / Madinah pada tahun 1992.

Demikianlah sekelumit perjuangan dalam menghadapi cobaan yang harus dilakoni dengan penuh kesabaran, ketabahan dan ketaqwaan kepada Yang Maha Pencipta. Akhirnya penulis dapat menyelesaikan SUSPIN sampai saatnya kembali bekerja di KANCA BRI Kayuagung. Inilah sebuah pengalaman unik yang tidak akan pernah penulis lupakan sepanjang hayat dikandung badan.

Amin.

Tidak ada komentar: