Lho koq baru Stasiun Kroya


Oleh : Suhirman

Jakarta.


Cerita ini terjadi sekitar bulan Agustus tahun 1973, ketika itu saya sedang mengikuti on the job trainning Siswa Pendidikan Analis Kredit. Tempatnya di Cabang Purwokerto untuk yang pertama kalinya selama tiga bulan. Waktu yang lama tersebut , ternyata ada suatu kenangan yang sulit untuk saya lupakan. Sebenarnya saya malu menceritakan pengalaman ini kepada orang lain. Tetapi atas permintaan pak Sukoyo yang menanyakan kepada saya, apa kenangan yang paling mengesankan selama bekerja di BRI maka saya mencoba menulis cerita ini khusus untuk teman – teman pensiunan BRI. Siapa tahu dengan cerita ini ada yang masih ingat dengan saya.

Suatu ketika dalam perjalanan dengan menggunakan kereta api Senja jurusan Solo – Jakarta, saya sendiri naik dari Stasiun Klaten dan rencana turun di stasiun Purwokerto. Menurut perkiraan akan akan tiba distasiun tersebut antara jam 23.oo – 24.oo. Biasanya sebagai orang baru di Purwokerto (baru dua minggu), pingin membawakan oleh – oleh makanan khas dari Klaten untuk teman – teman pondokan, yaitu ayam panggang Klaten yang terkenal dengan rasa gurih dan manis. Jadi selain tas pakaian saya membawa ayam panggang utuh satu ekor yang ditempatkan dalam besek. Entah karena apa waktu itu penumpang kereta api penuh sesak berdesak – desakan dalam setiap gerbong. Para penumpang nampaknya tidak perduli lagi akan tempat duduk, yang penting bisa katut. Kebetulan saya dapat tempat duduk, tetapi karena penuhnya penumpang pengelihatan saya terhalang kesemua arah, sehingga menyulitkan saya untuk mengetahui nama setiap stasiun yang telah dilewati.

Perjalanan hampir tengah malam dan kereta api berhenti disuatu stasiun agak lama, lalu saya bertanya kepada orang – orang sekitar samping saya “ Apa ini Stasiun Purwokerto ?” dan dijawab “ ya ! “ lalu secara spontan saya bergegas keluar. Kereta api mulai berjalan dan untuk mengurangi beban bawaan, tas dan besek ayam panggang saya lempar keluar melalui jendela kereta api. Karena penuhnya penumpang, saya tidak mudah untuk mencapai pintu keluar dan kereta berjalan semakin cepat.

Sesampainya dipintu saya tidak pikir panjang lagi, langsung meloncat dari kereta api dalam kegelapan malam, yang ternyata lokasinya sudah cukup jauh dari stasiun. Baju dan celana saya terasa basah – basah dan robek, ternyata bukan air tetapi beberapa bagian tubuh berdarah – darah. Saya terus berjalan kembali kerah tempat melempar tas dan besek ayam panggang tadi sekalian menuju kestasiun yang sudah kelihatan sepi, bahkan waktu itu tidak nampak seorang pun disekeliling stasiun itu. Yang nampak jelas dimataku hanya dinding stasiun itu sebuah tulisan Stasiun Kroya lho koq baru Stasiun Kroya . . . . . ??!.

Setelah saya gedor – gedor pintu stasiun, keluarlah seorang petugas dan melihat saya dengan terperanjat, kemudian menanyakan apa yang terjadi atas diri saya yang berlumuran darah. Setelah saya ceritakan apa yang saya lakukan, petugas tersebut terheran –heran kenapa koq masih hidup !. Sebuah pertanyaan yang membuat saya lebih terkejut , menurutnya apa yang telah saya lakukan tersebut sangatlah berbahaya. Banyak kejadian serupa dimana kereta dalam posisi berjalan cepat, jika seseorang melompat maka orang tersebut akan ketarik / kesedot kedalam roda kereta dan biasanya tidak selamat alias “wassalam”.

Akhir cerita nampaknya petugas stasiun tidak ingin direpotkan dengan keberadaan saya lebih lama ditempat itu. Kemudian memberhentikan kereta api yang lewat berikutnya dan menitipkan saya melalui seorang kondektur sampai di Stasiun Purwokerto