Oleh : M Effendi Ardjosupeno
Kejadiannya tahun 1991 didalah satu Kantor Cabang BRI di wilayah Kantor Wilayah BRI Medan, penulis sedang meminta “pertanggung jawaban” seorang Unit Bisnis Manager (UBM) mengenai beberapa masalah pekerjaan sehari hari. Penulis menyampaikan ketidak puasan atas pelaksanaan tugas dari sang UBM yang sangat lambat. Dan yang lebih menjengkelkan lagi alasan yang disampaikan tidak masuk akal dan terkesan dicari –cari.
M
endengar ucapan penulis yang keras disertai munculnya emosi yang mulai tidak terkendali, UBM menjadi takut dan gemetaran, mungkin juga karena merasa bersalah ; “ begini saya minta saudara harus sudah dapat menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tadi paling lambat sebelum akhir minggu ini ! saya tunggu laporan saudara lebih cepat lebih baik, kalau tidak bisa akan saya berikan sanksi kepada saudara” ucap penulis mengakhiri perbincangan tersebut. “ Ya pak mohon maafdan mohon ijin kembali ketempat tugas” jawab UBM sambil berdiri dan mendorong kembali kursi yang tadi diduduki mendekat kemeja.
Anehnya . . . . .ketika hendak membuka pintu ruangan untuk keluar dia malah mengetuk pintu layaknya seorang hendak masuk. upanya karena demikian takutnya dengan “gertakan” penulis tadi sehingga dia gugup dan grogi. Sampai – sampai tanpa sadar ia mengetuk pintu padahal tujuannya mau keluar ruangan PINCA.
Menyaksikan adegan tersebut penulis segara lari kekamar mandi yang ada diruangan dan tertawa terpingkal – pingkal. Astaghafirullah, saya telah membuat seorang menjadi begitu gugup dan grogi seperti itu. Memang UBM ini orangnya termasuk antik sekaligus telmi dengan usia yang dua tahun lebih tua dari penulis., tetapi saya pikir dan kemampuan manejerial sebagai UBM sangat rendah. Apa hendak dikata, memang demikianlah mutu SDM di KANCA tersebut.
Namun setelah kejadian tersebut, UBM bersikap biasa – biasa saja dengan penulis, malah setiap hari Sabtutetap sama – sama main tennis bersama rekan sekantor lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar