Antara Kebumen dan Cirebon


Oleh : Dadi Effendi

Jakarta

Kisah yang ditulis oleh para pensiunan BRI umumnya menceritakan pengalaman semasa bekerja di BRI. Kisah berikut juga menceritakan hal yang sama namun isinya berupa pengalaman semasa kecil dikedua kota tersebut yang ternyata telah membentuk obsesi penulis untuk bekerja di BRI. Jadi tulisan ini merupakan rekaman masa kanak- kanak, jaug sebelum penulis masuk bekerja di BRI.

Masa perang kemerdekaan.

Tentara Belanda menduduki Kebumen.

Pada masa perang kemerdekaan pada tahun 1948 / 1949 penulis berada di Kebumen, karena ayah (Bapak Soekardjo SH) menjabat sebagai Administrateur / Pinca BRI setelah mengungsi dari Cianjur yang baru saja diduduki Sekutu. Serangan musuh terhadap kota Cianjur sedemikian mendadaknya, sehingga para pegawai tidak sempat menyelamatkan asset BRI dan harta pribadi, bahkan penulis malahan tertinggal. Satu – satunya yang membekas dalam memori penulis tentang BRI Cianjur yaitu ketika tentara Gurkha yang berbadan tinggi besar, kulit hitam dengan rambut dikucir menemukan penulis dan adik dirumah dinas. Untunglah dengan sembunyi – sembunyi ayah berhasil menjemput kami pada sore harinya.

Berdasarkan pengalaman di Cianjur, maka sesampainya dikota Kebumen segera dilakukan konsolidasi. Para pegawai dilatih menghadapi keadan darurat. Rasa kebangsaan ditingkatkan, dibuatlah peti– peti dari kayu guna mengangkut harta BRI. Kantor dan rumah dipasangi bom waktu berwarna merah sebesar gentong. Tujuannya agar lebih baik tempat itu dihancurkan daripada nantinya dijadikan markas tentara Belanda. Rapat – rapat Dewan Pertahanan dan Ekonomi Kabupaten diadakan di Kantor BRI, bahkan Menteri Pertahanan waktu itu Mr Sewaka (ayahanda bpk Suba Sewaka, pejabat BRI Bandung) sering menginap dirumah dinas bila sedang turnee ke daerah – daerah.

Selanjutnya tidak mengherankan ketika kota Kebumen betul – betul diduduki oleh Belanda, tidak seorangpun pegawai BRI yang menyerah bahkan ikut evakuasi ke pedalaman. Sedangkan di instansi lainnya banyak orang yang ber kolaburasi/ bekekrja sama dan meneruskan pekerkjaan dibawah pemerintahan NICA Belanda.

Demikianlah pada saat tentara Belanda mencapai perbatasan kota, para karyawan mengisi peti – peti dengan asset BRI khususnya jaminan gadai emas, sertifikat tanah serta kemudian membumi hanguskan kompleks BRI. Selanjutnya dengan menggunakan beberapa dokar, diringi oleh sepeda karyawan semua mengungsi kedesa Tanuharjo. Semua ditampung dirumah Kepala Desa dan keesaokan harinya BRI membuka kantor darurat di Balai Desa meneruskan fungsi BRI. Kepala Desa waktu itu bernama bapak Marto, banyak berjasa kepada BRI dan kelak anak – anaknya yaitu bpk Soeparto, Soetjipto dan Sri Wahyuni diterima sebagai karyawan BRI Kebumen.

Ayah ditangkap Belanda.

Karena keadaan semakin genting dan Belanda mulai mengadakan patroli kedesa – desa, selanjutnya diputuskan untuik pindah ke Ibu Kota Yogyakarta melalui Kutoarjo dan Purworejo. Dalam perjalanan ini ayah tertangkap oleh Belanda , karena ketika menyamar sebagai petani ayah ditanya dalam bahasa Belanda dan menjawabnya dalam bahasa yang sama. Selama dalam tahanan tugas ayah lebih banyak menemani sang Komandan yang ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia. Kesempatan ini digunakan oleh ayah untuk memaparkan perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka tidak berbeda dengan rakyat Belanda dalam melawan NAZI Jerman yang baru saja menjajah Negeri Belanda. Rupanya rasa simpatinya timbul dan pada suatu malam diam – diam ayah dilepaskan kembali dan dapat berkumpul dengan keluarga dan rombongan BRI.

Batal ke Purworejo beralih ke Purwokerto

Akhirnya tujuan ke Yogyakarta dibatalkan, karena kota tersebut telah jatuh ketangan Belanda. Selanjutnya perjalanan dialihkan ke Purwokerto tempat Kantor Pusat dan Direksi BRI. Namun perjalanan kembali justru lebih sulit lagi karena jalan raya telah dikuasai Belanda, sehingga rombongan harus menempuh jala setapak di pegunungan dan dilakukan pada malam hari guna menghindari patroli Belanda.

Jumlah rombongan juga diperkecil, tinggal keluarga ayah dibantu para Mantri dan KTU yang mengangkut peti – peti dan yang kadang – kadang menggendong penulis dan adik –adik. Ditengah perjalanan sering bertemu dengan rombongan Siliwangi yang hijrah dari Jawa Barat. Ibu penulis yang berasal dari Sunda senang ngobrol dengan mereka, karena bahasa seharai – hari biasa menggunakan bahasa Jawa. Setelah berminggu – minggu kami berjalan kaki melintasi gunung, sungai, sawah dan hutan sampailah dikota Purwokerto. Rombongan langsung lapor ke Kantor Pusat yang lokasinya di area bangunan musium sekarang.

Dengan upacara singkat Cabang BRI Kebumen dinyatakan ditutup. Ayah sekeluarga pulang ke Ciamis kampung ibu penulis, sedang para pegawai antara lain Soehari, Roeskiman, Najib dan lainnya kembali kedesanya masing – masing. Setelah lama berkumpul, perpisahan terasa sangat mengharukan. Namun hubungan tersebut terus berlanjut puluhan tahun kemudian. Rombongan tersebut masih sering menjenguk penulis saat berada di Cirebon, Bandung dan Jakarta.

Nostalgia.

Pada tahun 1990 penulis telah bekerja di BRI dan kebetulan menjabat PINWIL DIY yang wilayahnya meliputi DIY, Kedu dan Banyumas. Suatu ketika mengadakan perjalanan dinas ke Kebumen, terharu rasanya membayangkan BRI pada masa perjuangan masa lalu. Saat kunjungan itu kondisi gedung kantor yang ada sudah tidak memadai lagi, maka penulis berusaha mengusulkan membangun gedung kantor yang besar dan megah. Alhamdulillah bisa terwujud, penulis merasa lega dn bersyukur dapat membalas budi sebagian karyawan BRI Kebumen.

Pengalaman di Cirebon.

Sebelumnya pada tahun 1920, kakek penulis bekerja di Volkbank (BRI) Cirebon sebagai Mantri Bank Desa yang membawahi sampai Daerah Kuningan. Administrateur. (PINCA) waktu itu seorang Belanda yang dikenal korup dan diskriminatif terhadap para karyawan pribumi, kakek melaporkan tingkah laku Pinca tersebut kepada atasannya di Bandung, namun yang terjadi kemudian adalah baik PINCA maupun kakek malahan dipecat. Karena malu dan kecewa, akhirnya kakek tidak mau bekerja dimanapun dan kemudian wafat. Sehingga tidak menangi / mengalami bahwa ayah penulis kemudian menjadi Administrateur AVB di Cirebon mengganti MR Stroing. Kemudian juga mengganti AVB menjadi BRI.

Pada waktu serah terima ada masalah kecil karena para karyawan mengharapkan R Widjaya seorang tokoh karyawan nasionalis sebagai PINCA. Setelah mengetahui ayah penulis turunan dari kakek yang menjadi simbol perjuangan para karyawan, akhirnnya disepakati ayah menjadi Administrateur dengan gaji F 28 dan R Wijaya menjadi wakilnya.

catatan penulis :

Dikelak kemudian hari baik ayah, penulis sendiri mapun bapak Krisna Widjaya putra R. Widjaya sama – sama memangku jabatan sebagai Direktur Personalia dan Logistik BRI dalam kurun waktu yang berbeda.

Pada tahun 1951 disekitar kompleks BRI masih rawan, karena berada dipinggiran kota dan didepannya masih berupa sawah. Tidak jauh dari kompleks terdapat basis BSH (barisan sakit hati) yaitu ex Lasykar Pejuang yang tidak dapat direkrut masuk TNI, sehingga mereka berbalik melawan Pemerintah RI. Mereka telah beberapa kali menyerang Kantor BRI dengan tujuan mengambil uang dan perhiasan. Pertempuran ala cowboy umumnya terjadi pada malam hari antara BSH dengan Polisi dan para karyawan yang bersembunyi dibalik dinding kantor. Mereka berlindung diparit dan gerobag kerbau dipinggir diseberang jalan, namun belum pernah mereka menguasai kantor BRI.

Demikian pula dengan Rombongan Kas BRI yang beroperasi didaerah – daerah kekuasaan DI / TII (Cilimus, Arjowinangun) harus pandai menghindar, karena nyawa taruhannya.

Tante menikah dengan Mr De Zeew, PINCA NHM.

Dikota Cirebon waktu itu hanya ada tiga buah bank, yaitu De Javasche Bank, BRI dan NHM . pimpinan NHM namanya De Zeew menikahi tante penulis (adik ayah). Ayah penulis orangnya sangat nasionalis, dua orang adiknya dan seorang adik ipar gugur di Front Gunung Ceremai. Beliau marah besar mendengar pernikahan tersebut dan tidak mau lagi mengakui sebagai adik. Karena sangat merasa tertekan tante sakit berkepanjangan. Ketika merasa ajalnya sudah dekat, dia mengundang ayah untuk memohon maaf. Melihat keadaan dan penderitaan tante serta betapa besar rasa kasih sayang suami kepadanya, akhirnya ayah merestui pernikahan mereka. Sebuah mukjizat datang, tidak lama kemudian tante bisa sembuh kembali dari sakit yang telah bertahun – tahun dideritanya. Selanjutnya mereka dapat menjalani kehidupannya dengan bahagia, tetapi meninggalkan Indonesia apda tahun 1958 karena situasi poltik saat itu.

Demikanlah pengalaman penulis yang sangat mengesankan dikedua kota tersebut. Loyalitas, patriotisme, kesetiaan dan rasa kekeluargaan yang ditunjukkan oleh para karyawan BRI menumbuhkan rasa respek yang mendalam. Keadaan tersebut menyederhanakan tujuan hidup penulis dengan fokus pada penyelesaian pendidikan, guna memenuhi obsesi menjadi pegawai BRI.

Pada tahun 1969 penulis selesai sekolah dari Perguruan Tinggi dan lulus test masuk beberapa Bank Pemerintah dan BI. Tanpa ragu penulis memilih BRI dan ayah yang telah pensiun sangat mendukung keputusan tersebut. Beliau berpesan agar bekerja sepenuhya untuk kepentingan BRI, tanpa mempertimbangkan bahwa penghasilan di BRI sat itu relative lebih kecil dibandingkan dengan bank lain. Bahkan beliau berjanji akan membantu mencarikan jalan untuk menambah penghasilan tanpa menggangu BRI. Jalan apa yang akan dicarikan oleh ayah, hal tersebut akan penulis paparkan dalam tulisan berikutnya yaitu “ Menjalankan passive income sambil bekerja di BRI”

Demikanlah kisah ini merupakan pengalaman penulis sendiri ditambah keterangan dari ayah dan ibu, namun karena kejadiannya telah lama berlalu tentu banyak hal yang kurang akurat. Untuk mana penulis mohon maaf

Terima kasih.

Tidak ada komentar: